sehabis baca E-book.
Terus iseng-iseng buka goodreads.
Ada yg mengkritik begini :
"Heran deh sama penerbit gramedia, itu kan penerbit besar, kok cerita cliche kaya gini terbit? Tapi emosinya memang dapet sih..."
Sedikit berpendapat,
Menurutku buku yang bagus adalah buku yang dapat membuat pembacanya larut emosinya, yang dapat membuat pembaca tetap mau baca walau sudah tau ending nya. Yang membuat pembaca tetap mau mengikuti jalan ceritanya karena mengalir lancar.
So? Although the story was too good to be true and so
Cliche, dan banyak orang mencibir karena buku itu hanya memberi mimpi kosong, tapi aku yakin, akan ada lebih banyak orang lagi yang dapat bertahan hidup dari mimi kosong itu.
Jika begitu apa kriteria sebuah buku untuk layak terbit? Tak ada rumus pasti untuk menjabarkannya. Itu kembali ke kebijakan penerbit.
Minggu, 05 Oktober 2014
Puisi-puisiku
Doa paskah seorang buruh kecil
Tuhanku yang maha pengasih
Tuhanku yang maha penyayang
Tuhanku yang maha pemurah
Engkau tahu
Aku setiap hari membanting tulang
Untuk anak istriku tercinta
Tapi Tuhan
Sampai menjelang paskahmu yang suci nan
agung
Dompetku kosong, berdebu
Minggu lalu,
Anak istriku ribut minta baju baru
Karena,saat natal tidak bisa beli
Tapi, apa dayaku?
Untuk makan sehari-hari saja susah
Tuhan
Bantu hambaMu ini
Agar dapat
Membahagiakan anak istriku
Terima kasih Tuhan
Amin
Semarang,Juni
2008
Hutanku, dimanakah engkau?
Kutemukan sebuah buku dongeng
Yang usang, dan yang berdebu
Ketika kubaca
Teringatlah aku akan masa kecilku
Hidup sederhana di pinggir hutan
Berkawan dengan flora dan fauna
Mengingat itu
Aku segera pergi
Ke hutan
Tempat masa kecilku itu
Tetapi
Apa yang kulihat?
Tanah gersang
Tanah gersang
Bertayalah aku
Hutanku dimanakah engkau?
Semarang,Juni 2008
Aku
Aku
Aku adalah
Aku adalah manusia
Yang ingin dikasihi
Yang ingin dihormati
Yang ingin dihargai
Aku manusia
Yang ingin disayangi
Yang ingin diperlakukan sama
Aku bukanlah patung
Aku bukanlah patung, seperti yang
kalian semua kira
Aku bukan patung
Yang hanya diam, diam, dan diam
Semarang,Oktober 2008
Keluh-kesah
Seorang pecinta sastra
Sastra
Apa yang salah dengan kata ini?
Mengapa fakultas sastra dipandang
sebelah mata?
“Kenapa masuk sastra?”
Tanya ibuku
“Sastra!?”
Ayahku kaget
“Mau jadi apa kamu nanti?”
Sambungnya
Kuteguh melanjutkan
Lulus
Aku melamar di banyak tempat
Tapi, apa yang kudapat?
Cercaan dan diumpat
Akhirnya
Aku bekerja
Sebagai guru bahasa Indonesia
“Kalau nantinya cuma jadi guru gimana?
Miskin lo guru itu.”
Kuterigat cercaan ibuku
Sastra
Sastra yang dihina
Sastra yang dicela
Sastra yang kusuka
Betapa malang nasibmu
Semarang,November 2008
Dunia fatamorgana
Akankah…
Kita akan terus
begini?
Terpisah oleh
jarak bermil – mil
Walau hanya dalam
dunia fatamorgana
Kuingin kau
kembali ke sisi
Seperti saat kita
bersama dahulu
Akankah…
Pertemuan pertama
kita
Hanya tinggal
kenangan?
Walau hanya dalam
dunia fatamorgana
Kuingin kau
kembali dan melinkupiku dengan sayapmu
Seperti saat kita
pertama berjumpa dahulu
Akankah…
Janji kita
Hanya tinggal
sebuah janji?
Walau hanya dalam
dunia fatamorgana
Kuingin kau
kembali dan kita saling mengkaitkan jari
Seperti saat kita
berjanji dahulu
Akankah…
Cinta
kita
Hanya
tinggal sebuah kata?
Walau
hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin
kau kembali dan berkata
Walau
jarak dan ruang memisahkan kita
Aku
percaya jika hati t’lah bicara
Takkan
ada yang mampu memisahkan kita
Semarang,
Juni 2009
Raga tanpa jiwa
Raga raga tanpa
jiwa
Diam seribu bahasa
Saksi bisu
Marahnya yang
kuasa
Raga raga tanpa
jiwa
Diam tanpa suara
bukti bisu
Kejamnya ibu kota
Raga raga tanpa
jiwa
Diam tanpa kata
Mengobati
luka yang terasa
Raga raga tanpa
jiwa
Diam tanpa nada
Menghadapi
Kehidupan tanpa
makna
Semarang,November 2009
Kematian dan kehidupan
Kaca yang telah
retak berkeping keeping
Menandakan
Aku tlah menjadi
teman dari kematian
Kata yang
kurangkai adalah racun
Yang perlahan
menyerapi jiwa
Ketika kau
memegang hatiku
Kau akan tahu
Apa arti dari
sebuah buku kosong
Ketika hari mulai
kembali
Aku tlah
mengetahui apa rasa dari:
Kehampaan
Kesunyian
Dan yang pasti
KEMATIAN
Ketika itu
Sadarlah aku apa
arti dari KEHIDUPAN
Semarang,November 2009
Seputih Kapas
Ketika hati terbagi
Ketika raga meragi
Ketika jiwa tercela
Dan,
Ketika logika telah tiada
Dalam lilin ungu
Tersimpan sebuah kata lagu
Kerinduan
Itu adalah kata yang terucap
Namun
Apa itu?
Bagiku…
Hanyalah kata rancu
Semarang, Januari 2010
Kelam
kematian
Biduan malam, kan merajuk
Hati yang temaram, kan merapuk
Hati yang sepi
Jiwa yang merana
Iri yang mendengki
Raga yang merana
Kata hati
Hanya graffiti
Kerinduan malam sisi
Terpuruk kelam suci
Tiang-tiang air di pipi
Telah menusuk sanubari
Semarang, Februari 2010
Penyesalan
Tarian kelopak-kelopak bunga
Dan…
Angin yang menggerakannya
Memberikan pelukan buatku
Permukaan air danau
Membuatku mengalirkan air mata
Ketika…
Hatiku telah kau sentuh
Pikirku
Kau akan mengerti
Apa arti dari kata
Hancur
Hampa
Kerinduan yyang tersimpan
Bercampur
Kata-kata umpatan
Celakalah aku!!
Matilah aku!!
Orang yang tidak mengenal Tuhan
Sekarang
Aku
Hanya bisa menyesal
Dan
Penyesalan itu tak perlu
Karena aku tidak akan bertobat
Sebelum sekarat
Semarang, Februari 2010
Aku ini tak
ubahnya patung
Jikalau raga ini remuk
Tak masalah
Toh..
Hatiku telahtak kupunya
Jiwaku tlah tak berharga
Aku t’lah habis
tawaku t’lah tiada
Tangisku tak ada
Bukankah aku tak ubahnya patung?
Dipamerkan diatas panggung
Dilihat oleh pengunjung
Tetapi,
Setidaknya patung-patung tersebut
mempunyai harga
Tapi aku?
Semarang, Maret 2010
Rusak
Gemerisik air sendu
Bunga yang layu
Embun kan merajuk
Seolah berkata
Apa yang bias disua?
Melihat
Alam berkarat
Dirusak
Oleh manusia keparat
Mereka melihat
Dengan tersayat
Seolah berkata
Apa yang bisa kita perbuat?
Semarang, April 2010
Soneta Bahagia
Sembilu
Menusuk hatiku
Tersenyum aku
Tawa menggila
Jika terbesit luka
Akh..
Aku apakah waras?
Aku terdiam
Dan mendendam
Saat melihat pujaan
Apa yang salah denganku?
Kembali tertawa
terbesit luka
Kembali tersenyum mengingat sembilu
Kemdali mendendam
melihat pujaan
Semarang,
Juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)