Minggu, 05 Oktober 2014

Puisi-puisiku


Doa paskah seorang buruh kecil

Tuhanku yang maha pengasih
Tuhanku yang maha penyayang
Tuhanku yang maha pemurah

Engkau tahu
Aku setiap hari membanting tulang
Untuk anak istriku tercinta

Tapi Tuhan
Sampai menjelang paskahmu yang suci nan agung
Dompetku kosong, berdebu

Minggu lalu,
Anak istriku ribut minta baju baru
Karena,saat natal tidak bisa beli
Tapi, apa dayaku?
Untuk makan sehari-hari saja susah

Tuhan
Bantu hambaMu ini
Agar dapat
Membahagiakan anak istriku
Terima kasih Tuhan
Amin

                                                                        Semarang,Juni 2008

Hutanku, dimanakah engkau?

Kutemukan sebuah buku dongeng
Yang usang, dan yang berdebu
Ketika kubaca
Teringatlah aku akan masa kecilku
Hidup sederhana di pinggir hutan
Berkawan dengan flora dan fauna

Mengingat itu
Aku segera pergi
Ke hutan
Tempat masa kecilku itu

Tetapi
Apa yang kulihat?
Tanah gersang
Tanah gersang

Bertayalah aku
Hutanku dimanakah engkau?
                                                                                                                            Semarang,Juni 2008


Aku
Aku
Aku adalah
Aku adalah manusia

Yang ingin dikasihi
Yang ingin dihormati
Yang ingin dihargai

Aku manusia
Yang ingin disayangi
Yang ingin diperlakukan sama

Aku bukanlah patung
Aku bukanlah patung, seperti yang kalian semua kira

Aku bukan patung
Yang hanya diam, diam, dan diam

                                                                                                  Semarang,Oktober 2008

Keluh-kesah
Seorang pecinta sastra

Sastra
Apa yang salah dengan kata ini?
Mengapa fakultas sastra dipandang sebelah mata?

“Kenapa masuk sastra?”
Tanya ibuku
“Sastra!?”
Ayahku kaget
“Mau jadi apa kamu nanti?”
Sambungnya

Kuteguh melanjutkan

Lulus

Aku melamar di banyak tempat
Tapi, apa yang kudapat?
Cercaan dan diumpat

Akhirnya
Aku bekerja
Sebagai guru bahasa Indonesia

“Kalau nantinya cuma jadi guru gimana?
Miskin lo guru itu.”
Kuterigat cercaan ibuku

Sastra
Sastra yang dihina
Sastra yang dicela
Sastra yang kusuka
Betapa malang nasibmu



                                                                                        Semarang,November 2008

Dunia fatamorgana

Akankah…
Kita akan terus begini?
Terpisah oleh jarak bermil – mil
Walau hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin kau kembali ke sisi
Seperti saat kita bersama dahulu

Akankah…
Pertemuan pertama kita
Hanya tinggal kenangan?
Walau hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin kau kembali dan melinkupiku dengan sayapmu
Seperti saat kita pertama berjumpa dahulu

Akankah…
Janji kita
Hanya tinggal sebuah janji?
Walau hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin kau kembali dan kita saling mengkaitkan jari
Seperti saat kita berjanji dahulu

Akankah…
Cinta kita
Hanya tinggal sebuah kata?
Walau hanya dalam dunia fatamorgana
Kuingin kau kembali dan berkata
Walau jarak dan ruang memisahkan kita
Aku percaya jika hati t’lah bicara
Takkan ada yang mampu memisahkan kita



                                                                                        Semarang, Juni 2009





Raga tanpa jiwa


Raga raga tanpa jiwa
Diam seribu bahasa
Saksi bisu
Marahnya yang kuasa

Raga raga tanpa jiwa
Diam tanpa suara
bukti bisu
Kejamnya ibu kota

Raga raga tanpa jiwa
Diam tanpa kata
Mengobati
luka yang terasa

Raga raga tanpa jiwa
Diam tanpa nada
Menghadapi
Kehidupan tanpa makna




                                                                                        Semarang,November 2009


Kematian dan kehidupan

Kaca yang telah retak berkeping keeping
Menandakan
Aku tlah menjadi teman dari kematian

Kata yang kurangkai adalah racun
Yang perlahan menyerapi jiwa

Ketika kau memegang hatiku
Kau akan tahu
Apa arti dari sebuah buku kosong

Ketika hari mulai kembali
Aku tlah mengetahui apa rasa dari:
Kehampaan
Kesunyian
Dan yang pasti
KEMATIAN

Ketika itu
Sadarlah aku apa arti dari KEHIDUPAN
 



                                                                                        Semarang,November 2009

  
Seputih Kapas

Ketika hati terbagi
Ketika raga meragi
Ketika jiwa tercela
Dan,
 Ketika logika telah tiada

Dalam lilin ungu
Tersimpan sebuah kata lagu 

Kerinduan
Itu adalah kata yang terucap
Namun
Apa itu?

Bagiku…
Hanyalah kata rancu

                                                                                        Semarang, Januari 2010



Kelam kematian


Biduan malam, kan merajuk
Hati yang temaram, kan merapuk

Hati yang sepi
Jiwa yang merana
Iri yang mendengki
Raga yang merana

Kata hati
Hanya graffiti

Kerinduan malam sisi
Terpuruk kelam suci

Tiang-tiang air di pipi
Telah menusuk sanubari




                                                                                        Semarang, Februari 2010

Penyesalan

Tarian kelopak-kelopak bunga
Dan…
Angin yang menggerakannya
Memberikan pelukan buatku
Permukaan air danau
Membuatku mengalirkan air mata

Ketika…
Hatiku telah kau sentuh
Pikirku
Kau akan mengerti
Apa arti dari kata
Hancur
Hampa

Kerinduan yyang tersimpan
Bercampur
Kata-kata umpatan

Celakalah aku!!
Matilah aku!!
Orang yang tidak mengenal Tuhan 

Sekarang
Aku
Hanya bisa menyesal
Dan
Penyesalan itu tak perlu

Karena aku tidak akan bertobat
Sebelum sekarat

                                                                

                                         Semarang, Februari 2010


Aku ini tak ubahnya patung

Jikalau raga ini remuk
Tak masalah
Toh..
Hatiku telahtak kupunya
Jiwaku tlah tak berharga

Aku t’lah habis
tawaku t’lah tiada
Tangisku tak ada

Bukankah aku tak ubahnya patung?
Dipamerkan diatas panggung
Dilihat oleh pengunjung

Tetapi,
Setidaknya patung-patung tersebut mempunyai harga
Tapi aku?


                                                                                        Semarang, Maret 2010


Rusak


Gemerisik air sendu
Bunga yang layu
Embun kan merajuk
Seolah berkata
Apa yang bias disua?
Melihat
Alam berkarat
Dirusak
Oleh manusia keparat

Mereka melihat
Dengan tersayat
Seolah berkata
Apa yang bisa kita perbuat?







                                                                                        Semarang, April 2010


Soneta Bahagia

Sembilu
Menusuk hatiku
Tersenyum aku

Tawa menggila
Jika terbesit  luka

Akh..
Aku apakah waras?
 
Aku terdiam
Dan mendendam
Saat melihat pujaan

Apa yang salah denganku?
Kembali tertawa  terbesit luka
Kembali tersenyum mengingat sembilu
Kemdali mendendam  melihat pujaan
  
 Semarang, Juli 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar